Pendidikan Profetik (2) : Ali-Imran (110)

*Akmal Akhsan Tahir*
Mahasiswa PAI UMY 2015

Pendidikan pada dasarnya tidak hanya merupakan transfer of knowledge (pengetahuan) belaka, tetapi juga merupakan transfer of value (nilai), sesuatu hal yang menjadikan hal itu dihargai, diinginkan, dikejar dan dapat membuat siapa saja yang menghayatinya menjadi bermartabat. (Adisusilo,2012).

Proses penanaman nilai dalam diri manusia ini menjadi utama sebab menyangkut totalitas kegiatan manusia dalam bermasyarakat.
Dalam Islam, pendidikan dihadirkan sebagai proses penanaman nilai Islam pada diri peserta didik, melalui Al-Qur’an dan Sunnah diharapkan lembaga pendidikan Islam dapat membentuk manusia yang ideal sesuai dengan tafsir surah al-Imran : 110. Kuntowijoyo sendiri menafsirkan ayat ini dalam tiga muatan : Liberasi, Humanisasi, dan Transendensi.

Sebagaimana yang kita maklum, pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini masih terpenjara dalam mengasah keahlian masing-masing anak, pendidikan menjadikan manusia indonesia sebagai manusia yang pragmatis, kering dengan nilai spiritual. Singkatnya terjadi dehumanisasi, deliberasi dan detransendensi.
Dalam carut marut dunia pendidikan yang demikianlah, Kuntowijoyo menawarkan gagasan sosial profetik sebagai tafsiran Islam transformatif. Pada bagian tulisan ini, kami hendak menjelaskan semangat profetik sesuai dengan QS. Al-Imran : 110.

Menurut Khoiron Rosyadi sebagaimana dikutip oleh Rohidayati (2015) terdapat pilar profetik yang digunakan oleh Kuntowijoyo sebagaimana yang ditafsrikan dalam QS. Al-Imran : 110, Yakni :

Pertama, Amar ma’ruf (humanisasi). Dalam konsep ini, amar ma’ruf dihadirkan agar manusia dapat perlakukan sebagaimana dirinya sebagai manusia, manusia yang berakal dan berperasaan. Dalam dialog sejarah kita bisa melihat kembali betapa Nabi mendakwahkan Islam dengan kalimat yang santun, komunikatif dan tidak intimidatif, beliau benar-benar memandang orang lain sebagai manusia dan memperlakukannnya jua sebagai manusia. Perilaku-perilaku yang tidak manusiawi (dehumanisasi) menjadi tugas Nabi untuk mengentaskannya secara perlahan tanpa melukai nilai kemanusiaan itu sendiri.

Kedua, nahi munkar (Liberasi). Liberasi adalah proses pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, ataupun penindasan. Pembebasan disini tentu memiliki keluasan makna, seorang pendidik bertugas membebaskan peserta didik dalam “ketidaktahuannya”, kamandegan dan kehidupannya yang statis melalui metode pendidikan yang tidak memaksakan. Dalam hal ini, maka diperlukan penanaman kritis dalam peserta didik sehingga mampu menafsirkan keadaan sekitarnya untuk selanjutnya mampu merubah keadaan.
Penulis sendiri berpendapat bahwa tugas pendidikan jua adalah membebaskan peserta didik dalam pandangan agama yang teramat tekstual. Tentu upaya yang harus dilakukan adalah bagaimana merelevansikan teks-teks Al-Quran dalam realitas kehidupan peserta didik. Artinya, menurut penulis “memenjara” peserta didik dalam pemahaman tekstual akan menjadikannya beku dalam menelaah keadaan sosial.

Ketiga adalah tu’minuna billah (Transendensi). Dalam Q.S Al-Imran : 103, Allah menegaskan kepada manusia untuk berpegang tegungh pada (agama) Allah serta tidak bercerai berai. Dalam hal ini, seorang muslim harus mampu menyelami kedalaman tauhid, mendekatkan diri dengan Tuhan sebagai proses transendendi, ikatan bersama Tuhan inilah yang memberikan motivasi dan energi pada manusia untuk mengarungi proses sejarah. Iman yang mendasar dalam dirinya seorang manusia akan menjadikannya sadar akan essensi keberadaan dirinya. Dalam praksis pembelajaran, pendidik dalam hal ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tauhid peserta didik.

Ketiga muatan profetik dalam QS. AL-Imran : 110 inilah yang menjadi nilai dasar yang perlu dibangun dalam konsep pendidikan profetik. Upaya kita selanjutnya adalah bagaimana mengekstrak ketiga muatan ini dalam praksis pembelajaran di lembaga pendidikan, khusunya lembaga pendidikan Islam sehingga semangat profetik dan cita-cita etik dapat benar-benar direalisasikan dalam pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *